ATAMBUA, Trans Timor News – Jalanan protokol Kota Atambua seketika berubah menjadi lautan manusia yang penuh sukacita pada Jumat (10/04/2026). Ribuan warga antusias menyaksikan gelaran Pawai Paskah GMIT Klasis Belu, sebuah perayaan iman yang tidak hanya melibatkan 10 gereja lingkup GMIT, tetapi juga merangkul berbagai denominasi gereja dan organisasi kepemudaan di wilayah perbatasan.
Mengusung tema sentral “HOPE NEVER DIES” (Harapan Takkan Pernah Padam), pawai tahun ini menjadi simbol kebangkitan yang kuat bagi generasi muda. Di tengah tantangan zaman, pesan kebangkitan Yesus Kristus digaungkan sebagai pengingat agar kaum muda tetap teguh, tidak mudah berputus asa, dan terus menyalakan api harapan dalam setiap langkah kehidupan mereka.
Sepanjang rute pawai, masyarakat disuguhkan dengan berbagai fragmen drama penyaliban hingga kebangkitan, serta kreativitas kostum dan dekorasi kendaraan hias yang memukau.
Simbol Toleransi dan Kebersamaan di Batas Negeri
Lebih dari sekadar perayaan liturgis, Pawai Paskah ini menunjukkan wajah asli Kabupaten Belu sebagai rumah toleransi. Keterlibatan berbagai elemen di luar GMIT mempertegas relasi harmonis antarumat beragama yang telah lama mengakar di Bumi Sahabat.
Beragam kreativitas yang ditampilkan oleh para pemuda menjadi bukti bahwa perbedaan latar belakang bukanlah penghalang untuk bersatu dalam kegembiraan. Momentum ini pun dinilai sukses mempererat tali persaudaraan dan memperkuat persatuan masyarakat di wilayah perbatasan RI-RDTL.
Melihat tingginya antusiasme publik, banyak pihak berharap agar kegiatan ini terus dikembangkan menjadi agenda tahunan yang lebih besar. Selain memperkokoh iman, Pawai Paskah diharapkan mampu menjadi daya tarik wisata rohani yang mencerminkan semangat kebersamaan masyarakat Belu.Rian
