LAHURUS, Trans Timor News – Nama Mgr. Gabriel Manek, SVD semakin menggema dan menjadi buah bibir yang mempertebal iman umat Katolik dalam beberapa tahun terakhir. Sosok sederhana kelahiran Lahurus (Ailomea), Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini tidak hanya dikenang sebagai pemimpin gereja yang karismatik, tetapi juga sebagai figur yang mendedikasikan seluruh hidupnya dalam kesederhanaan, pengabdian, dan kasih tanpa batas. Nilai-nilai hidup luhur inilah yang kini menuntun jalannya dalam proses ketat menuju gelar keluhuran tertinggi gereja: seorang Santo.
Jika proses kanonisasi ini berjalan mulus hingga akhir, Mgr. Gabriel Manek berpotensi besar mencatatkan sejarah baru sebagai Santo pertama dari Indonesia, sebuah tonggak iman yang luar biasa bagi Gereja Katolik di Tanah Air.
Gembala bagi Kaum Terpinggirkan dan Pendiri PRR
Lahir pada 18 Agustus 1913 di belahan timur Belu, Mgr. Gabriel Manek melewati jalan sunyi panggilan imamat hingga ditahbiskan menjadi imam Serikat Sabda Allah (SVD) pada tahun 1941. Sejarah mencatat kontribusi besarnya bagi gereja Indonesia saat ia dipercayakan menjadi:
-
Uskup Pertama di Larantuka
-
Uskup Agung Pertama Ende
Namun, di balik jubah keuskupannya, warisan paling abadi dari Mgr. Gabriel Manek adalah cara hidupnya yang radikal dalam mengasihi sesama. Beliau dikenal sangat dekat dengan kaum miskin, orang-orang menderita, hingga kaum tersisih seperti para penderita kusta. Pelayanan kasihnya mewujud nyata dalam tindakan konkret sehari-hari, bukan sekadar khotbah di atas mimbar.
Demi memperluas jaringan kasih tersebut, ia mendirikan Kongregasi Suster Putri Reinha Rosari (PRR). Hingga detik ini, para suster PRR terus melanjutkan visi sang pendiri melalui berbagai karya pelayanan sosial, kemanusiaan, dan pastoral di berbagai belahan dunia.
Fenomena Jenazah Utuh dan Kesaksian Mukjizat
Wafat pada tahun 1989, memori kolektif umat tentang ketulusan sang gembala tidak pernah pudar. Sebaliknya, tanda-tanda kekudusan (reputatio sanctitatis) justru semakin menguat pasca-kematiannya.
Dua fenomena besar yang kerap memperkuat keyakinan umat akan kesuciannya meliputi:
-
Jenazah yang Utuh (2007): Saat makamnya dibuka kembali pada tahun 2007 setelah belasan tahun dikebumikan, jenazah Mgr. Gabriel Manek ditemukan dalam kondisi masih utuh. Bagi umat, fenomena jasmani ini dipandang sebagai tanda kedekatannya dengan Sang Pencipta.
-
Kesaksian Doa yang Dikabulkan: Banyak umat yang bersaksi mendapatkan mukjizat atau rahmat khusus—mulai dari kesembuhan dari penyakit hingga anugerah keturunan—setelah berdoa memohon perantaraan (intersesi) Mgr. Gabriel Manek.
Alur dan Tahapan Panjang Menuju Kanonisasi
Proses pengakuan seseorang menjadi Santo dalam Gereja Katolik merupakan prosedur yang sangat panjang, ketat, ilmiah, dan teologis. Berikut adalah tahapan yang harus dilalui, di mana Mgr. Gabriel Manek kini berada pada fase krusial:
-
Tahap 1: Hamba Allah (Servant of God) Status awal yang kini telah disandang oleh Mgr. Gabriel Manek sejak dimulainya penyelidikan resmi.
-
Tahap 2: Penyelidikan Keuskupan (Selesai Akhir 2025) Proses pengumpulan bukti, dokumen hidup, kesaksian kebajikan, dan reputasi kesucian di tingkat lokal. Proses ini secara resmi telah ditutup pada 1 Desember 2025 di Keuskupan Larantuka.
-
Tahap 3: Pengiriman Dokumen ke Vatikan Seluruh berkas perkara dari Larantuka kini telah diterbangkan dan diserahkan kepada Dikasteri Penggelaran Kudus di Vatikan untuk diteliti oleh para teolog dan ahli.
-
Tahap 4: Venerabilis (Yang Dapat Dimuliakan) Gelar yang akan diberikan Vatikan jika ia resmi dinyatakan memiliki kebajikan heroik (heroic virtues).
-
Tahap 5: Beatifikasi (Beato) Langkah pra-kanonisasi yang mensyaratkan adanya satu bukti mukjizat medis/ilmiah yang sah secara gerejawi melalui perantaraannya.
-
Tahap 6: Kanonisasi (Santo) Puncak pengakuan resmi sebagai Kudus/Santo oleh Paus bagi seluruh Gereja Universal, yang membutuhkan minimal satu mukjizat tambahan setelah proses beatifikasi.
Catatan Redaksi: Seluruh rangkaian proses di atas dapat memakan waktu puluhan tahun demi memastikan akurasi data serta keaslian mukjizat yang terjadi secara ketat.
Kebanggaan dan Harapan dari Beranda Batas Negara
Bagi umat Katolik di Indonesia, terkhusus di daratan Timor dan Flores (NTT), bergulirnya proses ini ke Vatikan mendatangkan sukacita rohani yang mendalam. Ini bukan sekadar urusan administrasi gereja, melainkan sebuah peneguhan iman.
Jika kelak Mgr. Gabriel Manek resmi dikanonisasikan sebagai Santo, peristiwa ini akan menjadi simbol abadi bahwa kekudusan bersifat universal dan tidak mengenal sekat geografis. Dari sebuah wilayah terpencil di perbatasan Lahurus, Belu, lahir seorang gembala suci yang diakui dan dihormati oleh seluruh dunia.RM
