
ATAMBUA – Sebanyak 75 siswa kelas IV dan V yang mewakili 22 SD/MI se‑Kabupaten Belu turut meramaikan Lomba Bertutur Tingkat SD/MI Tahun 2026. Berlangsung selama tiga hari berturut‑turut di lingkungan Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Belu, kegiatan ini bukan sekadar ajang perlombaan—melainkan wadah strategis untuk mengasah kemampuan berbicara, membangkitkan minat baca, sekaligus menumbuhkan rasa cinta dan bangga terhadap warisan budaya daerah.
Dalam sambutannya, Asisten Pemerintahan dan Kesra Sekda Belu, Nikolaus Umbu K. Biri, menjelaskan bahwa seni bertutur memiliki makna yang luas: tidak hanya melatih anak menyampaikan cerita secara lisan dengan jelas, menarik, dan penuh ekspresi, tetapi juga membangun keberanian, kreativitas, serta keterampilan berkomunikasi di hadapan orang banyak.
“Lewat bertutur, anak‑anak juga diajak belajar menyampaikan gagasan, berempati, serta memahami dan menghargai nilai‑nilai luhur yang terkandung di dalam cerita rakyat dan warisan budaya bangsa,” ujar beliau.
Pihaknya turut menyampaikan apresiasi yang setinggi‑tingginya kepada panitia pelaksana, dewan juri, guru pendamping, orang tua, serta seluruh pihak yang telah bekerja keras mewujudkan kegiatan ini. Kepada seluruh peserta, beliau berpesan: “Bertuturlah dengan percaya diri, penuh ekspresi, dan penghayatan. Jadikan lomba ini sebagai ajang belajar dan pengalaman yang berharga. Selamat berlomba, junjung tinggi sportivitas!”
Sementara itu, Ketua Panitia, Frans X. Lako, ST, menegaskan tujuan utama kegiatan ini adalah menumbuhkan kegemaran membaca dan kemampuan literasi sejak usia sekolah dasar, sekaligus menanamkan kecintaan terhadap karya budaya bangsa melalui ragam bacaan.
“Kegiatan ini juga menjadi sarana untuk mempopulerkan cerita budaya daerah yang sarat nilai kehidupan, sekaligus membangun karakter anak lewat kisah kepahlawanan dan legenda yang kita miliki,” ungkap Frans. “Melalui kegiatan ini, kami berharap generasi muda semakin gemar membaca dan kelak dapat menjadi teladan dalam membangun kebiasaan literasi di lingkungannya masing‑masing.”
Pada perlombaan kali ini, para peserta membawakan dua kisah khas daerah, yaitu Suri Ikun dan Bui Ikun serta Legenda Raja Laku Leik. Penilaian dilakukan secara menyeluruh, mencakup penguasaan cerita, intonasi suara, ekspresi wajah, gerakan tubuh, tingkat penghayatan, hingga kemampuan menyampaikan pesan moral cerita kepada pendengar.
Lebih dari sekadar ajang kompetisi, Lomba Bertutur ini menjadi langkah nyata melestarikan cerita tradisional dan kekayaan budaya lokal Belu, sekaligus memperkuat kepercayaan diri serta keterampilan berbahasa anak didik. Harapannya, tradisi lisan dan nilai‑nilai luhur leluhur tetap hidup, dikenal, dan diwariskan terus oleh generasi penerus.
Turut hadir menyaksikan dan mendampingi kegiatan ini: Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Belu, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Belu, para anggota Dewan Juri, guru pendamping, serta para orang tua yang antusias mendampingi putra‑putrinya.RM
