Suara dari Dusun Koin: Swadaya Listrik Terbatas, Warga Desa Ekin Minta Keadilan Pembangunan

MENANTI CAHAYA: Potret aktivitas warga di Desa Ekin, Lamaknen Selatan, yang harus berjuang dengan penerangan seadanya di malam hari (28/04). Masyarakat bersama mahasiswa mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk segera mengintervensi persoalan listrik di wilayah perbatasan ini karena merasa diabaikan oleh pemerintah daerah dan pihak PLN.

LAMAKNEN SELATAN, Trans Timor News – Pekatnya kegelapan malam masih menyelimuti warga di beranda terdepan NKRI. Persoalan krisis energi listrik di Kecamatan Lamaknen Selatan seolah menjadi luka lama yang tak kunjung sembuh. Kali ini, jeritan minta tolong datang dari masyarakat Dusun Koin dan Dusun Aitameak, Desa Ekin, Kabupaten Belu.

Lelah dengan janji manis yang tak kunjung terealisasi, masyarakat setempat bersama kelompok mahasiswa melakukan aksi solidaritas untuk menyuarakan ketimpangan pembangunan ini. Mereka secara terbuka melayangkan surat aspirasi kepada Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto.

Surat Cinta dari Rakyat Tapal Batas

Dalam pernyataan sikap yang diterima redaksi Trans Timor News, masyarakat menegaskan bahwa listrik bukan lagi barang mewah, melainkan kebutuhan dasar yang menjadi hak setiap warga negara.

“Kami memohon kepada pemerintah agar kami tidak dianaktirikan dalam proses pembangunan di negeri ini. Kami telah berulang kali berkoordinasi dengan PLN tingkat kabupaten maupun provinsi, namun hingga kini tidak ada kepastian. Banyak janji, namun semuanya belum diwujudkan secara nyata,” bunyi petikan surat tersebut.

Warga berharap Presiden Prabowo Subianto dapat mendengar langsung keluhan dari warga yang menjaga perbatasan RI-RDTL ini agar segera ditindaklanjuti demi kesejahteraan bersama.

Fakta Pahit: Terang Hanya di Jam Tertentu

Kondisi di lapangan sangat memprihatinkan. Salah seorang warga Dusun Koin berinisial MB, mengungkapkan bahwa untuk mendapatkan sedikit cahaya, warga terpaksa melakukan swadaya secara mandiri. Namun, hasilnya jauh dari kata layak.

“Listrik masuk ini kami swadaya sendiri. Itu pun menyala hanya dari jam 6 sore sampai jam 10 malam, lalu mati total. Baru jam 11 malam ke atas menyala terang lagi. Kadang di sini setengah mati hanya untuk mendapatkan penerangan,” keluh MB dengan nada getir.

Ia juga menyayangkan minimnya perhatian dari Pemerintah Daerah (Pemda) Belu, DPRD, maupun pihak PLN yang selama ini dianggap hanya memberikan harapan palsu kepada masyarakat.

“Sejauh ini kami rasa tidak ada perhatian dari PLN, DPR, dan Pemda Belu. Tinggal janji dan janji saja,” tambahnya.

Masyarakat Dusun Koin dan Aitameak kini hanya bisa menggantungkan impian mereka pada ketegasan pemerintah pusat. Mereka merindukan kehadiran negara melalui jaringan listrik PLN yang stabil, sebagai bukti nyata bahwa keadilan sosial juga menyentuh pelosok Desa Ekin di perbatasan Lamaknen Selatan.EWL

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *