LASIOLAT-TRANS TIMOR NEWS // Sebuah perjalanan pengabdian yang luar biasa. Tepat hari ini, 8 Januari 2026, Drs. Tibertius Kutu merayakan hari ulang tahunnya yang ke-60 sekaligus menandai akhir masa baktinya (purna tugas) sebagai pendidik dan pemimpin di SMA Negeri Lasiolat.
Berikut adalah narasi kisah perjuangan beliau untuk mengenang dedikasi tersebut:
Bagi masyarakat pendidikan di Lasiolat, nama Drs. Tibertius Kutu bukan sekadar nama kepala sekolah. Beliau adalah simbol keteguhan. Lahir pada tahun 1966, ia tumbuh menjadi sosok yang mencintai narasi masa lalu sebagai guru Sejarah, namun selalu memiliki visi yang jauh menatap masa depan.
Ketika pertama kali menjabat sebagai Kepala Sekolah SMA Negeri Lasiolat pada tahun 2014, tantangan yang dihadapi Pak Tibertius sangatlah nyata. Sekolah ini berdiri tanpa atap miliknya sendiri. Selama lima tahun lamanya, aktivitas Belajar Mengajar (KBM) harus dilakukan dengan meminjam gedung SMP Negeri Lasiolat.

Para guru saksi sejarah yang bergabung sejak 2014 mengenang betapa sulitnya mengatur jadwal dan menjaga ritme sekolah saat masih “menumpang”. Namun, di tengah keterbatasan itu, Pak Tibertius tidak pernah menyerah. Ia adalah sosok yang paling rajin mengetuk pintu birokrasi, melakukan lobi, dan meyakinkan banyak pihak bahwa anak- anak Lasiolat layak memiliki “rumah” sendiri untuk menuntut ilmu. Semua perjuangan itu selain mendapat dukungan penuh dari pemerintah juga para tokoh masyarakat Kecamatan Lasiolat yang dengan rela menyerahkan tanahnya untuk menghadirkan lembaga ini meskipun disana sini ada banyak pihak yang menolak hadirnya lembaga pendidikan ini di bumi Lasiolat.
Buah dari kesabaran dan perjuangan tak kenal lelah itu akhirnya memuncak pada tahun 2020. Di bawah kepemimpinannya, SMA Negeri Lasiolat akhirnya resmi memiliki gedung ruang kelas sendiri. Momen perpindahan dari gedung SMP ke gedung baru SMA merupakan tonggak sejarah yang paling mengharukan.
Sejak saat itu hingga hari ini, tahun 2026, gedung tersebut berdiri kokoh sebagai bukti nyata pengabdiannya. KBM tidak lagi terbagi, identitas sekolah semakin kuat, dan prestasi siswa pun terus bertumbuh di bawah naungan atap milik sendiri.
Hari ini, tepatnya 8 Januari 2026 saat lilin usia ke-60 dinyalakan, Pak Tibertius tidak hanya merayakan hari lahirnya. Beliau sedang menutup bab terakhir dari sebuah buku sejarah yang ia tulis sendiri selama kurang lebih 12 tahun memimpin SMA Negeri Lasiolat.
Beliau pensiun dengan kepala tegak. Ia meninggalkan warisan fisik berupa gedung sekolah, namun yang lebih berharga adalah warisan semangat bagi para guru dan siswa. Sebagai guru Sejarah, beliau paham betul bahwa “Sejarah tidak hanya diingat, tapi diciptakan.” Dan Pak Tibertius telah menciptakan sejarah yang indah bagi pendidikan di perbatasan.
“Selamat ulang tahun ke-60 dan selamat memasuki masa purna bakti, Bapak Drs. Tibertius Kutu. Terima kasih telah menjadi nahkoda yang tangguh sejak 2014. Gedung SMA Negeri Lasiolat akan selalu menjadi saksi bisu atas setiap tetes keringat dan perjuanganmu.” (Oleh Vitalis Bau Mau, S.Pd.,Gr)
