
Raihat, 3 September 2026 — Rm. Fransiskus Dari Sales Mea Teku, Pr, Pastor Paroki Santo Aloysius Gonzaga Haekesak, dalam renungan yang diambil dari Kisah Injil hari ini mengajak kita memikirkan mukjizat penangkapan ikan yang berlimpah di Danau Genasaret, sebuah peristiwa yang bukan sekadar menunjukkan kuasa Tuhan, melainkan menjadi panggilan bagi Simon Petrus dan rekan-rekannya untuk menjadi “penjala manusia”.
Dikisahkan Simon Petrus dan rekan-rekannya telah bekerja keras sepanjang malam menebar jala, namun tidak mendapatkan apa-apa. Usaha mereka tampak sia-sia, hingga Yesus datang dan meminta menggunakan perahu mereka untuk mengajar banyak orang. Setelah selesai mengajar, Yesus memerintahkan Simon untuk bertolak ke tempat yang lebih dalam dan menebarkan jala kembali.
Meski sebagai nelayan berpengalaman ia sempat ragu — “Sudah sepanjang malam kami menebarkan jala tetapi tidak mendapatkan apa-apa” — Simon Petrus tetap memilih taat: “tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala.”
Ketaatan itu tidak sia-sia. Tangkapan ikan yang didapat sangat berlimpah hingga jala hampir koyak dan perahu hampir tenggelam, bahkan harus memanggil perahu lain untuk membantu. Melihat kuasa Tuhan yang besar, Simon Petrus tidak sombong, melainkan tersungkur di kaki Yesus dan mengakui dirinya sebagai seorang berdosa. Yesus lalu berkata: “Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia.” Mereka pun meninggalkan segala sesuatu termasuk hasil tangkapan yang melimpah dan mata pencaharian mereka untuk mengikuti Yesus,ujar Rm. Fransiskus
Dari kisah ini, kita diajak memikirkan beberapa pesan mendalam:
1. Kegagalan bukan akhir: Seperti para rasul, kita mungkin pernah merasakan usaha yang tampak sia-sia, namun Tuhan tetap memegang kendali.
2. Kita selalu berarti di hadapan Tuhan: Meski merasa tidak berdaya atau tidak berguna, Tuhan tetap memakai kita untuk kebaikan dan keselamatan banyak orang.
3. Ketaatan membawa berkat: Pengetahuan dan pengalaman penting, namun ketaatan pada firman Tuhan tidak pernah kosong — ia selalu mendatangkan berkat.
4. Berkat harus diumumkan: Kelimpahan yang kita terima dari Tuhan perlu diumumkan kepada orang lain; seperti perahu Simon Petrus dan perahu pembantu yang sama-sama mendapat tangkapan, berbagi membuat berkat semakin utuh.
5. Rendahnya hati di hadapan Tuhan: Berkat yang diterima tidak boleh membuat kita sombong, malah semakin sadar akan keterbatasan kita dan semakin mengakui kuasa serta kemurahan Tuhan.
6. Pengakuan disertai tindakan nyata: mengikuti Tuhan bukan sekedar kata-kata, melainkan keberanian meninggalkan hal-hal duniawi untuk menerima janji yang jauh lebih besar.
Semoga renungan ini menguatkan hati kita untuk tetap setia dan taat pada Tuhan dalam segala keadaan. Tuhan membantu kita. RM96
