Teken MoU dengan PT Pos, Bupati Willy Lay Minta Diskon Tarif Pengiriman demi Dongkrak Tenun Belu

Gandeng PT Pos dan NTT Mart, Pemkab Belu Siapkan Ekosistem Digital untuk Tenun Pewarna Alam

ATAMBUA, Trans Timor News – Pemerintah Kabupaten Belu dan PT Pos Indonesia (Persero) Kantor Cabang Atambua resmi menandatangani Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) terkait pemanfaatan layanan jasa dan optimalisasi potensi masing-masing pihak. Prosesi penandatanganan ini berlangsung di Ruang Kerja Bupati Belu, Senin (08/06/2026).

Acara strategis ini dihadiri oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekda Belu, jajaran pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), serta manajemen PT Pos Indonesia Cabang Atambua.

Tolak Formalitas Atas Kertas, Minta Bukti Nyata

Bupati Belu, Willybrodus Lay, SH, menegaskan dengan keras bahwa kesepakatan yang dibangun ini tidak boleh mandek hanya sebagai formalitas administratif belaka. Ia menuntut adanya output konkret yang dampaknya bisa langsung dirasakan oleh masyarakat, khususnya para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di wilayah perbatasan Belu.

“Jangan sampai habis MoU, kita hanya melakukan di atas kertas saja yang ditandatangani tapi tidak kita manfaatkan. Saya tidak mau itu. Saya ingin ada output yang jelas,” tegas Bupati Willy Lay di hadapan jajaran PT Pos Indonesia.

Tagih Komitmen Potong Tarif Logistik UMKM

Menanggapi janji manis PT Pos Indonesia yang menyatakan siap mendukung penuh UMKM lokal, Bupati Willy Lay langsung menagih bentuk dukungan nyata berupa insentif biaya logistik. Menurutnya, dukungan paling konkret yang dibutuhkan para perajin saat ini adalah pemotongan tarif pengiriman secara transparan.

“Saya setuju PT Pos mendukung UMKM, tapi dukungannya harus jelas. Bentuk dukungannya adalah komitmen pemotongan tarif pengiriman reguler. Per kilo dari tarif berapa menjadi berapa? Itu angka riil yang saya butuhkan agar produk UMKM kita bisa bersaing di luar daerah,” tagih Bupati.

Bupati Willy Lay menilai, efisiensi biaya pengiriman adalah kunci utama agar produk unggulan daerah—terutama kain tenun ikat Belu dengan pewarna alam—dapat menjangkau pasar nasional hingga internasional dengan harga yang tetap kompetitif.

Solusi Keterbatasan Pasar Digital Lewat Kolaborasi Ekosistem

Selain mengurai masalah mahalnya ongkos kirim, Bupati juga blak-blakan menyoroti kelemahan pemda dalam aspek pemasaran digital (digital marketing). Ia mengungkapkan, selama ini banyak peminat dari luar daerah yang bingung bagaimana cara memesan dan membeli kain tenun otentik khas Belu karena belum adanya marketplace resmi yang memadai.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Bupati Willy Lay menginstruksikan dinas teknis terkait dan PT Pos Indonesia untuk segera berkolaborasi menggandeng platform NTT Mart yang terafiliasi dengan Dekranasda Kabupaten Belu.

“PT Pos bisa gandeng NTT Mart dan Dekranasda untuk mempromosikan tenun kita. Ini solusi marketplace kita. Setelah MoU ini, saya tunggu pernyataan dukungan yang lebih komplit, bukan hanya janji, tapi aksi nyata melayani masyarakat Kabupaten Belu ke depan,” tambah Bupati Belu.

Instruksi untuk Pimpinan OPD

Menutup arahannya, Bupati mengimbau kepada seluruh pimpinan perangkat daerah yang hadir untuk segera bergerak menyosialisasikan poin-poin kerja sama ini kepada masyarakat luas. Jajaran dinas wajib memastikan bahwa seluruh fasilitas serta potongan tarif yang nantinya ditawarkan oleh PT Pos Indonesia dapat diakses dengan mudah oleh para pelaku usaha di tingkat akar rumput demi mempercepat pertumbuhan ekonomi kreatif di tapal batas negara.RM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *