Lahan Tani dan Pemukiman di Lamaknen Selatan Terancam, Warga Desak Pemerintah Tangani ‘Kegasan’ Kali Molis

"Potret kondisi terkini Kali Molis di Desa Loonuna yang kian meluas dan membentuk tebing curam. Pengikisan tanah yang masif kini mulai mengancam keberadaan lahan pertanian serta rumah warga di perbatasan RI-RDTL. Warga mendesak pembangunan bronjong segera dilakukan sebelum terjadi longsor susulan."

LAMAKNEN SELATAN, Trans Timor News – Ancaman bencana longsor dan kehilangan lahan produktif kini menghantui warga Desa Loonuna, Kecamatan Lamaknen Selatan, Kabupaten Belu. Kali Molis yang dulunya sempit, kini kian meluas akibat pengikisan hebat setiap musim hujan, hingga mulai mendekati area pemukiman di Dusun Liu, Purlolo, dan Loonuna Tas. Jika dibiarkan tanpa penanganan permanen, Kali Molis diprediksi akan menelan lebih banyak lahan tani dan rumah warga.

Ancaman Nyata Bagi Tiga Dusun

Erik Rikson Rasi, seorang mahasiswa sekaligus kader GMNI asal Dusun Liu, mengungkapkan kekhawatirannya atas perubahan drastis kondisi fisik kali tersebut. Menurutnya, bentang kali kini telah bertransformasi menjadi tebing-tebing curam yang rawan longsor.

“Waktu saya SD, kali ini tidak seluas sekarang dan jauh dari pemukiman. Namun sekarang, jika terus dibiarkan tanpa pemasangan bronjong atau penahan, warga di tiga dusun akan berada dalam bahaya besar. Bahu kali terus terkikis hingga menjadi tebing,” ungkap Erik.

Ia menegaskan bahwa persoalan ini tidak bisa hanya dipandang sebagai masalah lokal di Dusun Liu, karena dampak longsoran dan banjir akan meluas secara sistemik ke dusun-dusun tetangga jika tidak segera diintervensi oleh kebijakan pemerintah.

Komunikasi Struktural Jadi Kunci

Sebagai aktivis mahasiswa, Erik mendesak Pemerintah Desa Loonuna untuk tidak tinggal diam. Ia meminta adanya langkah proaktif untuk membangun komunikasi struktural dengan pemerintah di tingkat Kabupaten, Provinsi, hingga Pusat dan DPR.

“Jangan sampai kita terlambat menyesal ketika musibah besar sudah datang. Pemerintah harus hadir memberikan solusi teknis sebelum lahan tani dan rumah warga benar-benar hanyut terbawa arus,” tegasnya.

Suara Warga Terdampak

Kekhawatiran yang sama dirasakan Anastasia Koe, warga Dusun Liu yang rumahnya kini berada di bibir kali. Ia menceritakan betapa mencekamnya kondisi saat hujan turun dengan intensitas tinggi tahun ini.

“Hujan tahun ini sangat berlebihan. Banjir besar terus mengikis tanah hingga semakin dekat dengan rumah. Beruntung masih ada batu besar yang menahan, jika tidak, mungkin tanah kami sudah rata terbawa air,” tuturnya 

Hingga saat ini, warga hanya bisa berharap adanya kehadiran nyata dari pemerintah melalui pembangunan infrastruktur pengaman sungai guna menjamin keselamatan jiwa dan harta benda mereka.Aleto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *