Belu, Trans Timor News – Insiden kesalahpahaman antara warga dan anggota Satuan Tugas (Satgas) Pengamanan Perbatasan RI–RDTL di Desa Tohe, Kecamatan Raihat, Kabupaten Belu yang sempat terjadi pada Minggu dini hari (15/03/2026) akhirnya diselesaikan secara kekeluargaan. Kedua belah pihak sepakat menempuh jalan damai melalui pendekatan adat dan musyawarah bersama.
Pertemuan klarifikasi dan perdamaian tersebut dipimpin langsung oleh Komandan Kompi I Satgas Pamtas RI–RDTL Sektor Timur Yonarmed 12 Kostrad, Kapten Arm Heri Purnomo, serta dihadiri tokoh masyarakat, aparat desa, dan keluarga korban.
Kapten Arm Heri Purnomo menjelaskan bahwa pihak Satgas selama ini menjalankan tugas pengamanan wilayah perbatasan, termasuk meningkatkan patroli untuk mencegah aktivitas ilegal yang melintasi jalur tidak resmi antara Indonesia dan Timor Leste.
Menurutnya, keterbatasan personel dan dinamika di lapangan terkadang memicu kesalahpahaman dalam pelaksanaan tugas. Namun ia menegaskan bahwa persoalan yang terjadi telah disepakati untuk diselesaikan secara kekeluargaan.
“Permasalahan yang terjadi semalam kita selesaikan secara baik. Mari kita jadikan ini sebagai pelajaran agar ke depan hubungan antara masyarakat dan Satgas tetap terjalin dengan baik,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa aktivitas ilegal seperti penyelundupan barang, termasuk pakaian bekas atau ballpres, merupakan kegiatan yang dilarang oleh peraturan perundang-undangan. Karena itu, masyarakat diharapkan bersama-sama menjaga wilayah perbatasan agar tetap aman dan tertib.
Dalam kesempatan tersebut, pihak Satgas juga menyampaikan bahwa sekitar 15 bal pakaian bekas (ballpres) yang diamankan dalam operasi penertiban akan diserahkan kepada Bea Cukai untuk proses penanganan sesuai ketentuan yang berlaku.
Sementara itu, Babinsa Desa Tohe yang turut hadir dalam pertemuan tersebut menyampaikan bahwa perdamaian ini diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat komunikasi antara masyarakat dan aparat keamanan di wilayah perbatasan.
Ia menekankan pentingnya koordinasi dan saling menghargai agar kejadian serupa tidak terulang di kemudian hari.
“Tujuan kita adalah menjaga hubungan baik antara masyarakat dan aparat. Ke depan kita harus lebih banyak berkoordinasi agar tidak terjadi kesalahpahaman lagi,” ujarnya.
Hal senada juga disampaikan oleh Danpos Nunura Satgas Pamtas RI–RDTL Sektor Timur Yonarmed 12 Kostrad, Letda Arm David Partogi, yang menegaskan komitmen pihaknya untuk terus bersinergi dengan masyarakat serta para pemangku kepentingan di wilayah Desa Tohe dan Kecamatan Raihat.
Ia berharap perdamaian yang dicapai dapat menjadi langkah awal untuk memperkuat hubungan antara masyarakat dan Satgas dalam menjaga keamanan wilayah perbatasan.
Dalam pertemuan tersebut, pihak keluarga korban juga menyampaikan harapan agar kondisi kesehatan para korban dapat kembali diperiksa secara menyeluruh guna memastikan tidak ada dampak serius dari kejadian tersebut.
Tokoh adat Desa Tohe, Sander Atok, turut menyampaikan bahwa masyarakat berharap ke depan komunikasi antara aparat dan warga dapat berjalan lebih baik, termasuk melalui sosialisasi terkait aturan yang berlaku di wilayah perbatasan.
Kegiatan perdamaian kemudian ditutup dengan penandatanganan berita acara kesepakatan antara perwakilan masyarakat dan anggota Pos Nunura Satgas Pamtas RI–RDTL Sektor Timur Yonarmed 12 Kostrad, yang disaksikan oleh Kapten Arm Heri Purnomo serta tokoh adat setempat.
Sebagai simbol penyelesaian masalah secara adat dan kekeluargaan, kedua belah pihak sepakat berdamai dan berkomitmen menjaga hubungan baik serta keamanan wilayah perbatasan ke depan.Rian
