
RAIMANUK, BELU – Keluhan warga menggema dari ujung perbatasan. Di Kecamatan Raimanuk, tepatnya Desa Renrua dan Desa Raimanus, harga Pertalite di tingkat pengecer kini melambung jauh dari wajar. Dalam beberapa pekan terakhir, BBM bersubsidi itu dijual Rp.17.000 hingga Rp.25.000 per liter.
Angka itu jauh melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah, dan membuat napas masyarakat kelas menengah ke bawah semakin berat.
Stok Susah, Antrean Panjang
Para pengecer mengaku tidak punya pilihan lain. Sulitnya mendapatkan pasokan dari *SPBU* menjadi biang keladinya. Keterbatasan alokasi, antrean yang tak berkesudahan, ditambah jarak desa yang jauh dari pusat kota membuat biaya modal dan distribusi ikut membengkak.
“*Kami juga kesulitan. Kalau ke SPBU sering tidak dapat, kalaupun dapat antreannya lama. Mau tidak mau harga ke warga naik*,” ujar salah satu pedagang eceran di Renrua.
Bagi warga Raimanuk, Pertalite bukan sekadar bahan bakar. Ini penopang mobilitas harian, alat angkut hasil pertanian, hingga roda ekonomi desa yang berdenyut setiap hari. Kini, semua terasa lebih mahal.
Desak Pemerintah dan Pertamina Turun Tangan
Warga mendesak Pemerintah Kabupaten Belu, Pertamina, dan aparat penegak hukum segera turun melakukan pengawasan dan penertiban rantai distribusi BBM.
Mereka meminta ada langkah tegas untuk menata ulang penyaluran di SPBU, memastikan stok tersedia, dan memutus mata rantai yang membuat harga melambung di desa.
“Kami butuh kepastian. BBM bersubsidi harus sampai ke masyarakat dengan harga wajar. Jangan sampai di desa kami, harga justru dua kali lipat,” kata salah seorang warga Raimanuk.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak Pertamina maupun Pemkab Belu terkait kelangkaan dan lonjakan harga di wilayah perbatasan tersebut.RM
